Hakikat Puasa

Kategori : CONTENT, Informasi, Ramadan, Ditulis pada : 25 Februari 2026, 16:49:54

all web  (38).png
Pernahkah kita merasa kalau bulan puasa itu cuma soal "pindah jam makan"? Pagi sampai sore perut kosong, lalu saat azan Magrib tiba, kita seolah ingin membalas dendam dengan segala jenis makanan di meja. Kalau rutinitasnya cuma begitu, sayang sekali. Kita sudah capek menahan lapar, tapi tidak dapat apa-apa selain rasa haus.

Sebenarnya, ada sesuatu yang jauh lebih besar di balik rasa lapar yang kita rasakan. Puasa itu seperti "reset tombol" untuk diri kita yang mungkin selama sebelas bulan ini sudah mulai berkarat karena terlalu banyak menuruti keinginan duniawi.

Bukan Sekadar Perut, Tapi Soal Kendali Diri

Di dalam Islam, istilah puasa disebut As-Shaum, yang artinya menahan diri. Tapi menahan diri di sini bukan cuma soal nggak memasukkan nasi ke mulut. Ini soal bagaimana kita memegang kendali atas diri kita sendiri.

Coba bayangkan, di siang hari yang panas, kamu sendirian di kamar. Ada segelas air dingin di depan mata. Tidak ada orang yang melihat. Kamu bisa saja minum, lalu keluar kamar seolah masih berpuasa. Tidak ada manusia yang tahu. Tapi kenapa kamu tidak melakukannya?

Karena kamu tahu Allah sedang melihat. Di sinilah letak intinya. Puasa melatih kita untuk jujur pada diri sendiri dan sadar kalau kita nggak pernah benar-benar sendirian. Dalam sebuah pesan yang sangat kuat (Hadits Qudsi), Allah berfirman:

"Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya." (HR. Bukhari & Muslim).

Ini adalah ibadah yang paling jujur. Ibadah lain bisa saja dipamerkan, tapi puasa? Itu rahasia antara kamu dan Penciptamu.

Belajar Menjadi "Tuan" Atas Tubuh Sendiri

Selama ini, mungkin kita sering jadi "budak" dari keinginan kita sendiri. Ingin makan ini, beli itu, bicara ini, marah begitu—semuanya langsung dituruti. Nah, puasa datang untuk mengingatkan siapa bos sebenarnya di dalam tubuh ini.

Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan kita agar puasa kita nggak sia-sia:

"Banyak orang berpuasa, tapi nggak dapat apa-apa kecuali lapar dan haus." (HR. Ahmad).

Kenapa bisa begitu? Karena mulutnya masih dipakai untuk menjelekkan orang lain, jarinya masih dipakai untuk menyebar hoaks di media sosial, dan hatinya masih penuh dengan rasa benci. Kalau perut sudah puasa tapi kelakuan masih "liar", berarti kita baru sampai di kulitnya saja, belum sampai ke isinya.

Lapar yang Menguatkan

Mungkin terdengar aneh, kok lapar malah bikin kuat? Dalam sejarah dan catatan para ulama, rasa lapar justru bisa menjernihkan pikiran. Saat perut kenyang, kita cenderung malas dan lebih mudah dikuasai emosi. Saat lapar, ego kita biasanya agak sedikit melunak.

Lapar juga adalah alat bantu agar kita punya empati. Kita sering bicara soal membantu orang miskin, tapi jarang benar-benar tahu rasanya perut melilit karena nggak ada makanan. Puasa memaksa kita merasakannya. Harapannya, setelah lebaran nanti, kita nggak jadi orang yang pelit lagi karena sudah tahu rasanya sulit.

Tujuan akhirnya sederhana, seperti yang tertulis di Al-Baqarah ayat 183: "Agar kamu bertakwa."

Takwa itu nggak usah dibayangkan terlalu berat. Sederhananya, takwa itu adalah punya "rem" di dalam diri. Tahu kapan harus bicara, tahu kapan harus diam, dan tahu kapan harus menahan diri dari hal-hal yang merusak.

all web  (33).png

Jadi, Apa yang Berubah Tahun Ini?

Kalau setelah sebulan penuh berpuasa kita masih jadi orang yang sama, masih gampang marah, masih sering bohong, atau masih egois, berarti ada yang salah dengan cara kita puasa.

Puasa itu sukses kalau ia berhasil mengubah kebiasaan buruk kita. Mari kita coba untuk tidak cuma mempuasakan perut, tapi juga mempuasakan mata dari tontonan yang nggak berguna, mempuasakan telinga dari gosip, dan yang paling penting, mempuasakan hati dari penyakit sombong.

Cari Blog

10 Blog Terbaru

10 Blog Terpopuler

Kategori Blog

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id