BEREPUTASI BAIK

Selamat datang di KONSORSIUM MUSLIM TRAVEL.ID 

Umrah Mabruroh, Kiat Kita Untuk Menggapainya

Kategori : CONTENT, Informasi, Materi Manasik, Ditulis pada : 24 Agustus 2023, 16:09:59

Muslimtravel.id - Dalam melakukan ibadah, ada serangkaian yang harus diikuti dan sudah menjadi ketentuan dalam melakukan ibadah itu sendiri. Umrah adalah ibadah yang dilakukan di Baitullah atau Ka’bah yang pengerjaannya dapat dilakukan kapan saja di luar waktu makruh. Niat, Thawaf, Sa’i dan Tahalul merupakan rukun ibadah yang harus dilakukan saat umrah. Tujuannya ialah semata - mata mengharap ridho Allah Ta’ala  dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui penerapan tata cara umrah sesuai sunnah. 

Umrah mabrur ialah umroh yang dilakukan dengan sempurna, sesuai dengan syari’at islam, dan diterima oleh Allah Ta’ala. Umrah mabrur akan mendatangkan keberkahan dan mendapat ampunan dari Allah Ta’ala serta memperbaiki kehidupan dan akhlak seorang muslim bagi yang melakukannya. 

Namun, untuk memastikan perjalanan umrah menjadi mabrur dan diterima oleh Allah dengan penuh keridhoan, diperlukan persiapan dan niat yang tulus serta amal yang sungguh-sungguh. Bagaimana kiat kita menggapainya?  mari simak hal - hal berikut ini:

 

  • Ikhlas

 

Ikhlas adalah melaksanakan ibadah yang didasari dengan niat semata-mata hanya untuk mendapatkan ridha’ dari Allah Ta’ala dan bukan puja, puji atau kedudukan mulia di mata sesama manusia.

Dalam hadits qudsi, Allah Ta’ala  berfirman yang artinya:

Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amal dengan dicampuri perbuatan syirik kepada-Ku, niscaya Aku akan tinggalkan dia bersama sekutunya.” (HR. Muslim).

 Ikhlas merupakan salah satu hal yang penting dalam islam sebab ikhlas adalah syarat mutlak diterimanya suatu ibadah atau amalan shaleh. Ibadah atau amal shaleh yang dilakukan tanpa disertai keikhlasan tidak akan bernilai pahala di sisi Allah Ta’ala atau bisa dibilang sia-sia.

 

  • Niat Tulus

 

Niat menjadi tolak ukur dalam menjalankan ibadah baik yang wajib maupun sunnah. Maka dari itu, pastikan niat kita sudah lurus dan menjauhi dari perasaan ingin dihormati dari pandangan manusia. 

Berdasarkan hadits yang berbunyi, Sesungguhnya amal itu harus dengan niat. Setiap orang mendapatkan sesuai niatnya. (HR. Bukhari).

Niatkan dalam hati jika ibadah yang akan dilakukan benar - benar atas dasar rasa ikhlas semata - mata mengharap ridho Allah Ta’ala. dengan begitu insya Allah kita akan mendapatkan keberkahan serta ibadah Umrah yang mabrur. 

 

  • Halal & Thoyyib

 

Harta yang digunakan untuk berangkat umrah maupun haji harus diperoleh dengan jalan halal bukan yang haram. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti diriwayatkan Muslim, “Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim).

Ustadz Abdillah Firmanzah Hasan dalam bukunya ‘Ensiklopedia Amalan Nabi’  mengatakan, hadits tersebut memberi pemahaman bahwa hanya harta yang diperoleh dengan jalan halal yang diterima oleh Allah Ta’ala. Demikian pula dengan melakukan perjalanan menuju Baitullah, harus pula dengan harta yang halal.

Dalam Alquran surah Al-Maidah ayat 100 Allah Ta’ala berfirman:

“Bahwa yang baik dan buruk tidaklah sama. Katakanlah Muhammad, tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyak keburukan itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat agar kamu beruntung.”

 

  • Berbekal Ilmu 

 

Dalam menjalankan ibadah kepada Allah Ta’ala, harus di dasari dengan ilmu. Sebab beribadah tanpa didasarkan ilmu yang benar adalah sisa-sia belaka. Oleh karena itu, dengan mengamalkan ilmu di jalan Allah Ta’ala merupakan ladang amal (pahala) dalam kehidupan dan dapat memudahkan seseorang untuk masuk ke dalam surg-NYA. 

Dalam hadits yang berbunyi, Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, maka ia harus memiliki ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat maka itu pun harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka itu pun harus dengan ilmu” (HR. Thabrani).

 

  • Azam dan Istiqomah

 

Azam (az-zam) dalam islam berarti tekad dan keseriusan yang kuat dalam menentukan tujuan dan menjalankan amalan. Azam sangat penting dalam islam karena dapat memberikan motivasi, kekuatan dan daya tahan untuk mengejar tujuan dan menjalankan amalan yang baik.

Beribadah harus dengan kesungguhan dan konsisten. Seorang muslim harus memiliki azam yang kuat untuk memperbaiki dirinya, melakukan amal kebajikan, dan membantu orang lain. Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

Sesungguhnya amal perbuatan itu dinilai berdasarkan niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya tersebut adalah karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena keuntungan dunia atau wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya tersebut adalah karena apa yang dikehendakinya.” 

(HR. Bukhari dan Muslim) 

Pada saat ibadah umrah, kita harus benar-benar fokus pada rangkaian ibadah dan terlepas sementara dari berbagai urusan dunia. 

 

  • Tadzallul 

 

Tadzallul, artinya merendahkan diri. Saat beribadah kepada Allah Ta’ala merendahkan diri adalah hal yang dianjurkan. Sifat ini bersumber dalam hati yang kemudian pengaruhnya terpancar pada anggota tubuh. Menghadirkan khusyu’ serta merasa hina di hadapan-NYA senantiasa selalu memerlukan karunia dan petunjuk-NYA.

 

  • Jama’ah dan Ta’awun

 

Ta’awun, berasal dari bahasa arab yang berarti membantu atau tolong menolong. Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempermisalkan kaum mukminin sebagai sebuah bangunan yang saling menguatkan, Beliau bersabda, “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan, saling menguatkan sesama mereka.” (HR. Muslim no.2585).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, dia tidak akan menzhalimi saudaranya atau membiarkan saudaranya dizhalimi. Siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa yang membantu menghilangkan kesulitan seorang muslim, Allah akan menghilangkan kesulitannya pada hari kiamat, dan siapa yang menutupi aib saudaranya, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 2442).

Tolong - menolong dalam Islam dibangun diatas sebuah kaidah yang ada dalam firman Allah yang artinya:

“....Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan kebajikan. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al-Maidah: 2)

Jadi, tolong-menolong lah selama dalam lingkup kebaikan, ketaatan dan ketakwaan dianjurkan bahkan diwajibkan dalam sebagian perkara dalam meraih Ibadah yang berkualitas dan cerdas sebagai ummah marhamah.

 

  • Syukur dan Sabar

 

Imam Ibnu Hajar menjelaskan kepada kita hubungan antara syukur dengan sabar dengan menyatakan :

Syukur terkandung didalamnya sabar untuk taat kepada Allah dan sabar menahan dari kemaksiatan. Sebagian ulama menyatakan: kesabaran menuntut rasa syukur dan tidak sempurna tanpanya. Sebaliknya bila salah satu dari keduanya hilang maka hilang semuanya. Siapa yang berada dalam kenikmatan maka kewajibannya adalah syukur dan sabar. Kalau syukur itu sudah jelas dan kalau sabar maka sabar menghindari kemaksiatan. Siapa yang terkena musibah bencana maka kewajibannya adalah sabar dan syukur. Kalau sabar itu sudah jelas dan kalau syukur maka pada pelaksanaan hak Allah dalam bencana musibah tersebut, karena Allah memiliki hak atas hamba-Nya untuk beribadah dalam keadaan terkena musibah dan bencana tersebut, sebagaimana wajib bagi seorang hamba beribadah dalam keadaan penuh kenikmatan.”

(Fathul Baari 11/311).

 

(berbagai sumber)

 

 

Mau Umroh?? Cek Paket nya di sini!!!

Tersedia juga paket lainnya di muslimtravel.id

Cek Fakta! Melihat Bukti adanya Kaum Sodom di Laut Mati

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id